Pemilik Truk MAN di Korea Protes Keras, Mesin Berkarat dan Gigi Mendadak Bergeser ke Posisi Netral

Kalangan pengusaha truk di Korea memprotes kualitas truk MAN terkait dengan isu keselamatan dan problem pada mesin yang mereka temukan pada armada truk MAN yang mereka gunakan.
 

Kalangan pengusaha truk di Korea memprotes kualitas truk MAN terkait dengan isu keselamatan dan problem pada mesin yang mereka temukan pada armada truk MAN yang mereka gunakan. Protes itu diarahkan kepada MAN Truck & Bus Korea (MTBK), agen pemegang merk truk dan bus MAN di Korea Selatan. 
Mereka tidak terima atas penjelasan dan klarifikasi yang disampaikan CEO MTBK Max Burger dan MAN Corporate Quality Senior Vice President Thomas Konert terkait keluhan tersebut.

"Klaim oleh CEO MTBK Max Burger dan Wakil Senior Senior Mutu Korporasi MAN Thomas Konert, bahwa mesin tidak berkarat dan karat yang ditemukan pada produk MAN hanya terjadi pada PriTarder (perangkat di truk MAN yang memasok daya pengereman tambahan) adalah pernyataan untuk menyembunyikan cacat mesin," tuding Kim Young-boo, koordinator para pemilik truk MAN di Korea yang  mengajukan protes dan menuntut ganti rugi ke pihak MAN.

Pada event pameran produk truk dan bus MAN di Yongin, Provinsi Gyeonggi, Korea, minggu lalu, pihak MTBK menjelaskan alasan mengapa Kim dan kelompoknya mengklaim ada karat pada mesin truk MAN mereka, termasuk temuan tentang rem truk yang menjadi lembek dan gigi transmisi yang tiba-tiba berpindah ke posisi netral saat truk sedang melaju.

Burger dan Konert dalam penjelasannya mengatakan, karat terjadi pada komponen PriTarder ketika pendingin selang bocor, dan selang pendingin dapat rusak ketika pengemudi memasukkan air atau cairan lain ke dalamnya.

CEO MAN Truck & Bus Korea (MTBK) Max Burger.

Konert menekankan, mesin di truk MAN sepenuhnya aman dioperasikan dan tidak akan muncul karat. Tuduhan ada masalah keselamatan juga tidak ada karena MAN Trucks yang dipasarkan di Korea Selatan telah lulus peraturan keselamatan Korea tanpa PriTarder.

Pihak MAN menyatakan menyesal atas keluhan yang disampaikan konsumennya tersebut namun mereka menyatakan akan menyelidiki cairan coolant yang digunakan di truk-truk MAN yang di-recall tersebut sejak awal September 2018 lalu. Kejadian ini menimpa 1.191 unit truk MAN yang dioperasikan pengusaha angkutan di Korea. Atas kejadian ini, pihak MTBK menyatakan memperpanjang masa garansi dari tiga menjadi lima tahun.

Namun Kim menyatakan tidak terima dan tidak puas atas penjelasan yang disampaikan MTBK. Kim mengatakan pihak MTBK menipu pelanggan mereka di Korea dengan kebohongan.

Menurut Kim, mesin di truk MAN sudah dilengkapi dengan perangkat penurun emisi seperti filter particulate diesel dan sistem reduksi katalitik selektif untuk memenuhi standar emisi gas buang Euro 6. Panas berlebihan yang muncul membuat cairan pendingin berkurang karena menguap. Penguapan tersebut meninggalkan garam yang menyebabkan mesin jadi berkarat.

"Kami telah melakukan penelitian yang membuktikan klaim kami dan telah menyerahkan temuan ini ke Kementerian Transportasi Korea," kata Kim. "Tapi sebelum itu, kita harus tahu apakah PriTarder, yang dikatakan MAN menjadi pemicu karat, terbuat dari aluminium."
Aluminium dapat menimbulkan korosi tetapi tidak memicu karat karena tidak mengandung zat besi.

Kim juga menegaskan, penjelasan MTBK bahwa PriTarder yang bermasalah tidak membahayakan keselamatan truk sebagai pernyataan yang tidak bertanggung jawab, karena faktanya truk memerlukan kekuatan pengereman tambahan saat mereka didorong di jalan pegunungan.

"Juga, penjelasan mereka bahwa gigi yang bisa tiba-tiba bergeser ke posisi netral adalah kesalahan dasbor sifatnya sederhana adalah respon memalukan dan meremehkan nyawa para pemilik truk MAN dan mereka yang bisa menjadi korbannya karena celaka," kata Kim. "Sopir-sopir kami, setiap kali naik ke kabin truk MAN (untuk mulai mengemudi) selalu berdoa 'semoga hari ini tidak celaka."

Kim mengatakan pihaknya dan para pengusaha truk yang mengoperasikan truk MAN di Korea akan terus melanjutkan protes mereka sampai MTBK mengakui ada cacat produk dan meminta maaf kepada mereka serta memberikan kompensasi.