Bus Pariwisata Kalimaya Siap Tambah 35 Armada dan Buka Pool Baru di Timur Jakarta

Bus Kalimaya merupakan salah satu unit bisnis jasa transportasi di bawah bendera PT Multi Inti Transport (MIT), anak perusahaan MIS Group. 
 

Pemain baru di bisnis charter bus dan angkutan bus pariwisata, Kalimaya, akan menambah lagi armada bus baru sebanyak 30 sampai 35 unit  untuk melayani kebutuhan pelanggan, termasuk pelanggan segmen korporasi yang selama ini digarapnya.

Bus Kalimaya merupakan salah satu unit bisnis jasa transportasi di bawah bendera PT Multi Inti Transport (MIT), anak perusahaan MIS Group. CEO MIT, Lina Hardi dalam keterangan pers tertulisnya mengatakan, saat ini bus Kalimaya diperkuat dengan 16 armada bus. 

Untuk mendukung pengembangan pasar, MIT akan menambah jumlah armada melalui investasi baru senilai Rp 170 miliar sampai Rp 200 miliar untuk pembelian 30 sampai 35 unit bus serta 500 unit kendaraan penumpang dari berbagai merek dan tipe untuk layanan rental. Sebagai informasi, sampai akhir 2018, MIT mengoperasikan sekitar 79 armada passenger car dan 16 unit bus.

Armada bus pariwisata Kalimaya di pool Cikande, Serang.

MIT juga mengelola satu buah pool armada berlokasi di Cikande, Banten untuk melayani pelanggan di kawasan barat Jakarta, seperti Tangerang, Cilegon, dan Serang. Lina menjelaskan, tahun 2019 ini MIT akan membuka satu pool lagi di timur Jakarta untuk menggarap potensi pasar di Cikarang, Cibitung, Purwakarta, dan Cikampek.

Saat ini sebanyak 80 persen pendapatan perusahaan berasal dari segmen korporasi atau B to B. Meski begitu Lina menegaskan, perusahaannya tetap akan menggarap segmen ritel atau B to C. Dia menilai segmen ritel tetap perlu digarap karena potensi pasar yang bagus serta potensi pendapatan yang lebih tinggi.  "Segmen B to C bisa mendongkrak revenue dengan pendapatan yang berasal dari sewa harian," sebutnya. 

Prosesi peresmian bus Kalimaya dan MIT Solution Center di Cikande

Sudah jadi rahasia umum, bisnis penyewaan kendaraan terutama penyewaan bus saat ini terjadi perang tarif atau perang harga. Terkait hal ini Lina menyatakan pihaknya selalu berusaha menghindari perang harga. Perusahaannya akan menerapkan strategi dengan memanfaatkan pemetaan data perusahaan-perusahaan klien yang mampu memberikan harga sewa yang bagus, seperti perusahaan makanan minuman dan consumer goods atau FMCG dan perusahaan asing yang bergerak di industri manufaktur. Pihaknya juga menyiapkan layanan digital marketing, dengan didukung tim sales dan marketing yang berpengalaman.