Video Viral Truk Tangki Tabrak Orang Uji Kebal, Bukan Sepenuhnya Salah Supir

Video Viral Truk Tangki Tabrak Orang Uji Kebal, Bukan Sepenuhnya Salah Supir
Sontak kejadian mengerikan yang terekam kamera tersebut viral di media sosial. Setelah kejadian, pria yang duduk di jalan tersebut akhirnya tewas.
 

Selain pikap terguling di Lumajang, ada satu lagi video insiden yang viral. Kali ini ada kejadian truk tangki menabrak pria yang duduk di jalan, diduga untuk menguji kekebalan tubuhnya.

Ditengarai, insiden tersebut terjadi di Jalan Raya Madiun-Surabaya, tepatnya di Desa Karangmalang pada Sabtu (21/11).

Kejadian mengerikan yang terekam kamera itu pun langsung viral di media sosial. Setelah kejadian, pria yang duduk di jalan tersebut akhirnya tewas.

Dalam kejadian ini, pengemudi truk tangki ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Madiun. Namun ditilik dari aspek safety driving, ternyata kesalahan bukan sepenuhnya dari supir tersebut.

Seperti disebutkan oleh Catur Wibowo, Defensive Driving Trainer dari ORD Training Center. "Dalam defensife driving ada dua hal yang harus tercapai, kita melihat dan kita terlihat. Jika kejadian dalam video tersebut ada unsur yang tak tercapai, tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pengendara," urainya saat kami hubungi Rabu (25/11).

Menurutnya ada tiga kesalahan yang dilakukan objek (korban tabrakan). Mulai dari duduk di jalan raya yang notabene bukan pada tempatnya. Lalu tidak memberikan lampu atau sinyal kepada pengendara lain. Serta posisi duduk dari objek sehingga tidak mudah terlihat pengendara lain.

Sementara di sisi lain, pengemudi juga memiliki catatan kesalahan. Seperti berjalan kondisi seperti hujan dan gelap seperti saat kejadian, seharusnya sedikit memperlambat laju kendaraan.

Selain itu, setelah kejadian supir juga harusnya segera melapor ke pihak berwajib. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab pengemudi atas perbuatannya.

Sedangkan tindakan preventif seperti pengereman mendadak atau menghindari korban harus ditilik dari berbagai asumsi alasan pengemudi. Mulai objek memang tidak terlihat karena kondisi malam membuat pandangan terbatas.

Lalu bisa saja alasannya untuk menghindari kecelakaan yang lebih fatal akibat panic braking. Pengemudi mungkin ingin menghindari potensi terguling dan truk terbakar yang akibatnya bisa lebih banyak korban.

Asumsi lainnya jarak objek terlalu dekat. Sehingga pengereman dilakukan tapi tidak bisa menghentikan laju kendaraan.

Jika asumsi tersebut benar, pengemudi justru harus diapresiasi. Karena driver truk lebih memilih memperkecil potensi korban.

"Sehingga pihak berwajib harus memakai dasar beberapa rujukan untuk memberikan hukuman. Karena unsur kelalaian bukan 100 persen dari posisi driver," tutup lelaki yang disapa Ninot itu.