Pertahankan Posisi Market Leader, KTB Akan Lakukan Penyegaran Truk Colt Diesel

"Untuk light duty truck kita sedang kembangkan versi penyegaran Colt Diesel," ungkap Duljatmono, Direktur Marketing & Sales KTB.
 

PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) akan segera melakukan penyegaran desain produk untuk truk ringan Colt Diesel yang dipasarkan di Indonesia. Kabar baru tersebut disampaikan Direktur Sales & Marketing PT KTB Duljatmono menjawab pertanyaan wartawan di acara buka puasa bersama yang diselenggarakan KTB di Jakarta baru-baru ini.

"Untuk light duty truck kita sedang kembangkan versi penyegaran Colt Diesel," ungkap Duljatmono. Pria yang akrab disapa Pak Momon ini mengatakan, penyegaran akan dilakukan tahun 2019 ini juga. "Nanti akan kita informasikan di pameran GIIAS 2019," ungkap Duljatmono.

Pameran GIIAS 2019 akan berlangsung pada 18-28 Juli 2019 dan KTB akan menjadi salah satu exhibitor di segmen kendaraan niaga. 'Si Kepala Kuning', Mitsubishi Colt Diesel atau disebut Canter, selama ini merupakan tulang punggung penjualan truk KTB di Indonesia. Karenanya, melalui penyegaran ini, KTB akan bisa mempertahankan posisi Colt Diesel sebagai market leader di penjualan truk ringan di Indonesia.

Salah satu fungsi Colt Diesel, sebagai truk tangki pengangkut air

Data pada GAIKINDO menunjukkan, pangsa pasar Mitsubishi Fuso di penjualan truk di Indonesia saat ini mencapai 43,5 persen di tengah merosotnya penjualan kendaraan komersial hampir dua persen di awal 2019 lalu.

KTB sebagai distributor resmi truk dan bus Mitsubishi Fuso mengalami penurunan penjualan sekitar 19 persen di periode Januari-April 2019 menjadi 13.432 unit jika dibandingkan capaian penjualan di periode yang sama tahun 2018 lalu.

Dony Hermawan, Department Head Public Relations & CSR Department PT KTB mengatakan, market share KTB di bulan April 2019 mencapai 47 persen, meningkat 3 persen jika dibandingkan bulan April tahun 2018 lalu yang sekitar 44 persen dan maupun posisi di bulan Maret 2018 yang sebesar 39 persen,

Penjualan terbesar terjadi di wilayah Sumatera sebesar 29,1 persen, disusul Kalimantan 14 persen, Jabodetabek 17,5 persen, Jawa Barat 11,5 persen, Jawa Timur 11,1 persen, Jawa Tengah 9 persen. "Kita tetap punya progres yang positif saat pasar turun,” ungkap Dony.