Dua Puluh Tahun Transjakarta: Arena Uji Kuat Sasis Tronton

Dua Puluh Tahun Transjakarta: Arena Uji Kuat Sasis Tronton
Sempet dicibir kini malah butuh lebih banyak armada
 

Jika kita melihat perkembangan skema transportasi massal Transjakarta yang ada saat ini maka itu bermula dengan digulirnya inisiasi program Bus Rapid Transit (BRT) di tahun 2001. Tujuannya ikut mengatasi kemacetan di wilayah Jakarta dengan pengembangan sistem transportasi makro.

Tahun 2004 adalah realisasi program yang dimulai era Gubernur Sutiyoso itu. Dan program tersebut merupakan sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara.

Koridor pertamanya adalah rute Blok M-Kota sepanjang 12,9 kilometer. Secara resmi menjadi transportasi bagi masyarakat umum sejak tanggal 1 Frebruari 2004. Waktu itu Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Sutiyoso.

Operator dari Transjakarta, sering disebut dengan istilah ‘busway’, dikelola oleh Badan Pengelola Transjakarta Busway. Ini merupakan badan non-struktural yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 110 Tahun 2003.

Kemudian operasional Transjakarta menjadi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta sejak 4 Mei 2006. Secara organisasi insitusi ini berada di bawah Dinas Perhubungan DKI Jakarta sebagaimana Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 48 Tahun 2006.

Di tahun 2011 mulailah digalang kerjasama dengan operator bus di luar Transjakarta hingga kini ada barisan nama-nama seperti PT Jakarta Trans Metropolitan (JTM), PT Primajasa Perdanaraya Utama (PP), PT Jakarta Mega Trans (JMT), PT Eka Sari Lorena (LRN), PT Bianglala Metropolitan (BMP), PT Trans Mayapada Busway (TMB), Perum DAMRI (DMR/DAMRI), Kopaja, Mayasari Bakti, dan Perum PPD.

Pada era yang sama inilah mulai dioperasikannya beragam bus-bus kota buatan Eropa untuk menggantikan unit yang sudah tidak layak jalan.

Dalam perjalanannya semua tata kelola bus Transjakarta diserahkan ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bernama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) pada 27 Maret 2014.

Saat ini paling tidak ada tujuh model bus yang beroperasi di hampir semua koridor. Ada yang articulate bus, low entry bus, double decker, maxi bus, single bus, medium bus, dan mikrotrans. Jumlahnya lebih dari 4.000 unit bus. Mayoritas milik operator rekanan.

Semuanya terbagi-bagi untuk melayani 13 koridor di seantero Jakarta, dan sejumlah wilayah penyangga kota.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Bus Low Floor Terbaru Transjakarta, Scania K250UB

Baca juga: Transjakarta Perpanjang Layanan Reguler Sampai Pukul 24.00 WIB

Bus buatan Eropa mulai dioeprasikan Transjakarta mulai tahun 2017