Mengenal Teknologi Air Suspension Pada Bus

Mengenal Teknologi Air Suspension Pada Bus
Kenyamanan, menjadi salah satu faktor penggunaan Air Suspension pada bus. Bagaimana cara kerja dan apa saja komponennya?
 

Belakangan, ada sistem suspensi yang kerap digunakan pada bus, yaitu air suspension atau suspensi udara. Cara ini lebih meredam guncangan dengan lebih baik sehingga penumpang merasa lebih nyaman.

Di Indonesia, beberapa sasis bus sudah menggunakan suspensi udara ini, seperti Mercedes-Benz OH 1626, OH 1830, OH 1835 dan Hino RN, juga Scania dan Volvo.

Seperti apa cara kerjanya? Secara umum, sistem air suspension terbagi dalam beberapa komponen, seperti kompresor, tabung udara, katup udara, dan kantung karet (air bellow) sebagai peredam guncangan juga controller sebagai pengatur suplai udaranya. Melalui controller ini, sistem tersebut bisa memiliki pengatur ketinggian yang bisa dioperasikan oleh pengemudi bus.

Komponen Air Suspension/Krazytech.com

 

Nah, secara mekanis pengoperasiannya cukup simpel, ketika mesin menyala, otomatis kompresor pun akan menyala untuk mengisi tabung reservoir. Dari sana, aliran udara akan dibagi melalui berbagai katup menuju ke kantung karet atau air bellow di posisinya masing-masing.

Narrow Air Suspenson/Hino-global.com

Umumnya, pada as depan, terdapat dua buah kantung dan di belakang empat buah. Posisi air bellow ini pun berbeda-beda. Jika posisinya di bawah sasis, maka disebut Narrow Air Suspension, seperti pada Mercedes-Benz OH 1626 atau Hino RN 285. Sementara tipe Wide, posisi kantung udaranya sejajar ban.

Wide Air Suspension/Hino-global.com

Perbedaan ini akan menentukan juga bodi bus, karena untuk tipe Narrow cenderung lebih mudah limbung, ketika menggunakan bodi yang terlalu tinggi. Begitu pula dengan bobotnya, relatif harus lebih ringan dibandingkan tipe Wide.